KAMI MENDENGARKANBagi banyak orang percaya yang terperangkap di dalam kekerasan di
Congo dan Orissa, hari-hari yang menakutkan ini justru memberikan kesempatan untuk melayani selain juga untuk menderita. Tidak banyak yang dapat kami katakan kepada Anda yang telah menyampaikan kepada kami kisah-kisah yang memilukan. Tidak banyak yang dapat kami lakukan dari tempat yang jauh ini, tetapi kami berjanji tidak akan meninggalkan Anda tanpa teman yang mau mendengarkan Anda dan berdoa bagi Anda. Baru-baru ini saya belajar bahwa kata belas kasihan berarti juga “menderita bersama”, bukan memecahkan segala masalah. Belas kasihan berarti langsung pergi ke orang-orang itu dan tempat-tempat di mana penderitaan paling parah terjadi, dan membangun rumah di sana. Belas kasihan Allah adalah total, mutlak dan tanpa syarat, tanpa penundaan. Itu adalah belas kasihan dari mereka yang terus melangkah ke sudut-sudut yang paling dilupakan di dunia ini, dan yang tidak dapat tinggal tenang sepanjang mereka tahu bahwa masih ada manusia dengan air mata.
UGANDA: ULAR DAN DUKUNIni adalah cerita kuno Afrika yang mungkin pernah Anda dengar, namun kisah yang sama kembali terjadi bulan lalu. Mitra kami
George Purkweri pergi bersama rekan-rekannya dari Gereja untuk Kaum Miskin di Barlonyo untuk memberitakan Injil di sebuah desa yang disebut dengan desa Agweng di mana jimat-jimat mengundang roh-roh jahat untuk meneror orang-orang. Sebanyak lima orang anak muda telah mati tahun lalu dipatuk ular besar yang tiba-tiba menghilang ketika para penduduk desa berusaha membunuhnya. Mereka berkata bahwa tahun lalu, satu keluarga menerima seorang dukun dan mengizinkan untuk meninggalkan ular itu untuk perlindungan. George berkata bahwa orang-orang desa sangat cemas mendapat kunjungan orang-orang percaya untuk berdoa di dalam nama Yesus, dan sementara hal itu dilakukan. roh-roh jahat membanting orang-orang ke tanah sebelum mereka dibebaskan. Dan akhirnya, sebanyak 36 orang memutuskan untuk menerima Kristus dan mereka mendirikan Gereja untuk Kaum Miskin yang berikut. Tentang ular itu tidak ada berita lanjutan.

POST MODERNISM, ANCAMAN ATAU PELUANG?
Kemarin malam kami mengadakan suatu pertemuan Kristen post-modern yang sangat eksperimental, yang menganugerahi Trent Vineyard di Inggris dengan suatu kumpulan besar yang terdiri dari ratusan orang muda. Di tempat yang baru saja diperluas dengan dana £4,000,000 kami menggunakan beberapa layar lebar, presentasi video yang kuat dan band yang sangat bagus. Ketika pengunjung masuk, mereka disuguhi sepotong jigsaw yang kemudian dicocokkan ke dalam suatu papan raksasa sebagai bagian dari doa untuk menemukan tempat kami di dalam pelayanan bersama, dan kemudian foto masing-masing orang dipasangkan juga di dalam layar yang besar membentuk kata SATU. Sungguh berkesan, dan sulit untuk disebut sebagai gereja sebagaimana yang kita kenal, tetapi jika dengan cara ini iman kepada Kristus akan disebar di dalam dunia Barat post-modern, maka tidak ada yang perlu kita takutkan.
SUKU YANG JAUH DARI PERADABAN DI PLANET KITAJauh di Papua sana mitra kita Adri yang sebelah matanya tidak dapat lagi melihat, bersama rekannya yang berusia 50 tahun, pastor Abimelekh, hari ini pergi ke dalam hutan untuk melayani selama satu bulan di tengah-tengah suku yang tak terjangkau yang disebut Hopi Bungkus, yang artinya “Tanpa Pakaian”, sebab mereka sama sekali telanjang, baik laki-laki maupun perempuan. Pertama kali Abimelekh mendatangi suku itu, mereka menangkap dan mengikatnya, siap untuk menghukumnya. Namun Tuhan menolongnya sehingga ia dapat menjelaskan maksud kedatangannya. Kita menantikan berita selanjutnya untuk mencari tahu apa yang dapat dilakukan untuk orang-orang Hopi Bungkus ini, namun informasi yang kami dapat, mereka memerlukan obat-obatan dan alat radio komunikasi sebagai prioritas utama.